Bermasalah deng…

Bermasalah dengan Mbakku
Karya : Ken Lisa Nanda

          Hari minggu, pada pukul dua siang ponselku berdering. Saat itu aku sedang bermalas-malasan di depan televisi sambil ngemil keripik kesukaanku. Aku bangkit dari dudukku, mengambil ponsel yang ku letakkan dikamarku. Kulihat layar ponselku, ternyata Mbak Steffi yang menelpon.
“dek, jam 11 nanti aku kerumahmu. Ada masalah penting yang perlu aku bicarakan denganmu”
nada suara Mbak Steffi terlihat sedikit emosi.
“ada apa mbak ?” tanyaku heran
“nanti saja kita bicarakan, urusannya panjang !” kata Mbak Steffi lagi sedikit membentak.
“Yasudah mbak, aku tunggu” ucapku sambil meletakkan kembali ponselku diatas kasur empukku.

              Aku heran melihat tingkah kakakku itu, jarang sekali ia membentakku. Dengan hati was-was aku menunggu waktu yang ia tentukan itu. Selama menunggu aku terus berfikir, ada apa denganku ? apa aku melakukan kesalahan pada kakakku itu ?  jarang sekali ia begitu kepadaku. Dalam keluargaku, aku dan Mbak Steffi terkenal selalu kompak dan juga sangat akrab. Aku adalah Resa. Aku adalah adik sepupunya Mbak Steffi. Saat ini aku tinggal kota Malang di Jawa Timur. Sudah pasti Mbak Steffi adalah kakak sepupuku. Panggilan “mbak” dalam bahasa jawa berarti “kakak” begitulah. Biasanya aku memanggil kakak sepupuku itu. Ia tinggal dengan keluarganya di kompleks perumahan sebelah. Cukup jauh dari rumahku. Apabila ditempuh dengan motor perlu waktu 10 menit.

            Akhirnya, jam 11 yang terasa lama aku tunggu itu datang juga. Tetapi, Mbak Steffi belum juga datang. Setelah menunggu beberapa saat lagi Mbak Steffi datang dengan muka yang sedikit emosi. Lalu berkata
“maaf telat, nungguin motor dulu” kata mbak Steffi.
Aku tahu pasti motornya usai dipakai oleh adiknya. Motor mereka memang hanya ada satu dan dipakai bergantian.
“ada apa mbak, kok mukanya kusut begitu ?” kataku mencoba ramah
“aku ingin bertanya, Kamu suka ya sama Roni?” kata mbak Steffi ketus
“hah ? kenapa tiba-tiba tanya begitu ? aku enggak suka kok sama dia. Dia kan pacarmu. Gak mungkin lah aku suka sama dia” kataku pasti
“kalau enggak suka kenapa kamu kemarin smsan sama dia. Pake ngadu segala kalau aku pacaran sama Pandu. Gara-gara mulut ember kamu itu Roni mutusin aku !” kata mbak Steffi
“lho kalau mbak pacaran sama kak Pandu, kenapa Mbak juga masih pacaran sama Mas Roni” sanggahku
“aku nunggu saat yang tepat buat mutusin dia. Udah gak usah banyak tanya. Apa maksud kamu begitu ?” tanya Mbak Steffi

            Aku sangat binggung mendenger tuduhan Mbakku itu.. Aku memang kenal dengan laki-laki yang menjadi pacar Mbakku 2 bulan yang lalu ini. Tetapi, selama aku kenal dengan dia, aku tidak pernah ada hubungan apa-apa dengan Mas Roni apalagi menaruh perasaan suka padanya. Kalaupun smsan mungkin hanya bertanya tentang pelajaran dan juga hubungannya dengan Mbakku ini. Tidak pernah ada acara mengadu kepadanya seperti yang diceritakan Mbakku itu.

            Dengan sabar aku menjelaskan kepada Mbakku yang sedang emosi itu. Tetapi, ia tetap saja marah padaku. Karena capek menjelaskan, akhirnya aku spontan berkata .
“Kalau nggak percaya besok saja disekolah kita tanyakan langsung sama Mas Roni” kataku sambil sedikit emosi.
Awalnya Mbakku membantah. Tetapi karena dia pikir ini cara yang terbaik akhirnya dia setuju.

        Esoknya, kami bertiga sepakat akan bertemu di taman sekolah pada jam istirahat. Aku, Mbak Steffi, dan Kak Pandu datang terlebih dahulu. Kami memang satu sekolah, tetapi kelas kami berbeda. Aku kelas 1 smp dan mereka kelas 3 smp. Kami sekolah disalah satu Sekolah ternama di kotaku. Aku heran saat itu, dan bertanya kepada mereka
“kenapa kak Pandu ikutan?” kataku.
“aku cuma ingin ikut meramaikan saja dek. hehehehe” kata Kak Pandu yang suka bercanda itu.
Entahlah, ada hubungan apa Kak Pandu dengan Mbakku itu. Akhir-akhir ini mereka lebih sering jalan-jalan ataupun pergi makan berdua. Disitu kami ngobrol-ngobrol sambil menunggu Mas Roni.

“sorry telat” tiba-tiba ada suara yang aku tahu itu suara Mas Roni, dan saat itu juga kulihat Mas Roni berlari menghampiri kami bertiga.
“Lama amat sih Ron” kata Mbakku.
“iya nih, barusan selesai ngerjain tugasnya Pak Doni yang sudah pasti super duper banyak itu” kata kak tami memberi alasan.
“yaudah deh, duduk.” Kataku mempersilahkan dia duduk.
“oke makasih. Ada apa’an sih kok pada ngumpul? Mau demo kepala sekolah ya?” tanya Mas Roni heran.
“apa’an. Bukan lah  !  gini nih Mas, aku mau tanya. Emang aku pernah smsan sama Mas Roni, dan bilang kalau Mbak Steffi ada hubungan sama Kak Pandu ?” tanyaku heran
“weit, pelan-pelan dong ngomongnya. Kayak ngintrogasi aja” kata Mas Roni
“buruan deh jawab!” kataku agak marah
“oke-oke, gini ya.dengerin baik2 nih. Gini nih. Denger yaa” katanya sambil bercanda.
“aaah lama deh gak lucu tau, iya didengerin mas” kataku.
“hehehe, gini emang Resa enggak pernah bilang gitu ke aku. Cuma, aku tau sendiri aja Steff, kelihatan aja dari sikap kamu ke aku akhir-akhir ini. Kamu juga jadi peduli banget sama si Pandu” kata Mas Roni menjelaskan sambil melirik Kak Pandu.
“ah, cemburuan sih loe Ron” kata Kak Pandu mengejek.
“biarin kenapa, waktu itu kan Steffi cewek gue” kata Mas Roni mengelak
“haduh, kenapa ribut sendiri. Udah deh. Tapi kenapa Mas Roni bilangnya aku yang bilang kayak gitu ?” kataku
“ya maaf dekdek manis, susah aja buat aku cari alasan. Sekarang aku tanya. Kalian berdua pacaran kan ?” tanya Mas Roni kepada Mbak Steffi dan Kak Pandu
“iya, terus kenapa ?” kata Kak Pandu
“hahaha, aku tau kok Ndu. Ya enggak apa-apa. Kalau kalian berdua jadian. Wajar dong aku mutusin Steffi. Massa’ Steffi mau punya dua orang cowok?” ucap Mas Roni enteng-enteng saja
“hmm, maaf Ron. Aku enggak maksud buat bohong ke kamu. Aku emang udah enggak suka sih sama kamu” jelas Mbak Steffi.
“iya enggak apa-apa kok. Aku tau” kata Mas Tami.

Emang sih kalau dilihat Kak Pandu lebih ganteng daripada Mas Roni. Pantes saja Mbakku milih dia.

“udah selesai kan Mbak ? bukan aku kan yang Salah ?” kataku menengahi
“iya dek, maaf” pinta Mbak Steffi
“iya, enggak apa-apa. Aku cuma heran aja, kenapa tiba-tiba aku dituduh kayak gitu” kataku.
“iya, maaf ya”
“iya, sama-sama. Yaudah ya kakak-kakak kelasku yang lagi pollinglope (jatuh cinta). Aku balik dulu ke kelas. Bentar lagi waktunya Bu Nuri nih” kataku sambil menyebutkan guru yang terkenal lumayan galak itu.
“oke dek. Makasih.. Maaf yaa” kata mereka hampir bersamaan.
“iyaa sama-sama” kataku sambil berjalan meninggalkan mereka.

           Akhirnya, masalahku dengan Mbakku tersayang ini usai juga. Karena masalah ini, hubunganku dengan Mas Roni semakin dekat. Ia sering mentraktirku makan sepulang sekolah. Mungkin karena orang itu merasa bersalah telah membawa-bawa namaku untuk alasan dia memutuskan Mbakku.

           Hingga sekarang hubunganku tetap dekat dengan Mas Roni. Tetapi, kita tidak pernah lebih dari sahabat ataupun kakak-adik. Banyak orang yang mengira kami pacaran. Sebenarnya hal itu tidak pernah terjadi. Aku hanya menganggap dia sebagai kakakku yang baik. Begitu pula dia, dia bilang aku, kalau aku adalah adek kelasnya yang asyik diajak nongkrong dan maen. Begitulah, kata terakhir yang dia ucapkan sebelum akhirnya dia berpamitan padaku. Ia ingin melanjutkan sekolahnya di Jakarta. Setidaknya hari sabtu malam, didepan rumahku itu terakhir kalinya aku melihatnya sejak ia pindah ke ibukota Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s