DUA RATUS RIBU

“Nek, belikan seragam baru, ya ? seragamku sudah sempit” pintaku
“sabar ya, uang nenek belum cukup. Tunggu bulan depan ya.” kata nenek

Aku menghela napas kecewa, tapi tidak marah. Aku sadar, nenek tidak punya banyak uang. Namaku adalah Fandi. Nenek mengasuhku sejak ayah ibuku meninggal tujuh tahun lalu karena kecelakaan bis.

Esoknya, aku kembali bersekolah dengan seragamku yang usang dan sepatuku yang beberapa bagiannya telah robek. Tetapi, peralatan sekolahku yang seperti ini tidak mengahalangi aku untuk belajar disekolahku ini. Sepulang sekolah, aku dan teman-teman berjalan melewati kebun kelapa milik Pak Sabar, kulihat ada beberapa orang sedang memanen kebun Pak Sabar.

Sesampainya dirumah Nenek sudah menyambutku dan sudah mempersiapkan sarapanku. Lalu, akupun makan bersama Nenek dengan lauk pauk seadanya. Saat makan aku teringat saat pulang sekolah tadi,
“nek, boleh aku bekerja?” tanyaku tiba-tiba
nenek menatapku sedih dan bertanya “mau kerja apa?”
“memetik kelapa di kebun Pak Sabar” jawabku pasti
Nenek tampak khawatir “tapi, itu berbahaya. Pohon kelapa sangat tinggi. Kalau jatuh, kamu bisa mati.” ujar nenek
“tapi aku kan jago memanjat Nek” belaku
“kalau tetap ingin bekerja, mengapa tidak mengupas atau memunguti kelapa saja” ujar Nenek
            Wah Nenek betul, aku setuju dengan usul Nenek. Dengan berat hati, nenek akhirnya mengizinkan aku bekerja. Sore harinya, aku pergi kerumah Pak Sabar untuk memohon pekerjaan.
“berapa umurmu?” tanya Pak Sabar
“sepuluh tahun Pak” jawabku pelan
Pak Sabar mengamatiku dan berkata “aku tidak memperkerjakan anak-anak”

Aku kecewa mendengarnya. Ketika hendak pergi Pak Sabar menahanku. Beliau mengambi dompet dari sakunya dan mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan dari dompet. Itu lebih besar dari pada upah memetik, memunguti, dan mengupas kelapa kalau dijadikan satu. Lalu beliau memberikannya padaku.
“untuk keperluan sekolahmu” katanya

Mataku berkilat riang menerimanya. Tanganku gemetar. Belum pernah aku memegang uang sebanyak itu. Terbayang olehku seragam baru, sepatu baru, buku-buku baru, dan tas baru. Akan tetapi, aku meletakka uang itu diatas meja
“saya tidak bisa menerima uang ini, Pak” kataku
“kenapa?” tanya Pak Sabar heran
“karena saya harus bekerja untuk mendapatkannya” jawabku tegas
“oh, begitu” kata Pak Sabar sambil menyimpan kembali uang itu didompetnya.
“aku tetap tidak bisa menerimamu bekerja disini” kata Pak Sabar

Hilanglah kesempatanku untuk mendapat uang dua ratus ribu. Walau begitu aku tidak putus asa. Panen kelapa kebetulan dilakukan pada hari minggu. Pagi-pagi, aku pergi ke kebun kelapa Pak Sabar. Di sana, aku melihat Pak Sabar sedang mengawasi para pekerjanya. Aku menghampirinya dan memohon agar diperbolehkan ikut bekerja. Usahaku tidak sia-sia.
Pak sabar menghela nafas kemudian bertanya, “kamu mau kerja apa?”
“memunguti dan mengupas kelapa” jawabku takut-takut
“baiklah, kamu boleh ikut bekerja. Tapi bila kamu malas, jangan harap mendapat upah” kata Pak Sabar

Aku pun segera bergabung dengan pekerja yang lain. Memunguti kelapa ternyata tidak semudah yang kubayangkan. Terkadang, kelapa-kelapa itu jatuh dan menggelinding ke semak-semak berduri, jatuh ke jurang yang curam, atau ke sungai yang berarus deras. Mengupas kelapa sepertinya lebih mudah. Caranya tinggal menancapkan kelapa ke ujung linggis yang diberdirikan, kemudian kelara ditekan kebawah hingga sabutnya sobek. Namun, karena linggisnya tajam, Pak Sabar melarangku dan hanya mengizinkan aku memunguti kelapa ditempat yang mudah.

 

Karena harus bolak-balik memunguti kelapa, aku letih juga. Tenagaku hampir habis. Upah yang kuterima hanya sedikit. Tapi aku bangga. Karena uang itu kudapat dengan susah payah, bukan mengemis. Dan sorenya, aku bersama nenek pergi ke toko untuk membeli seragam baru.

Saat kami pulang, seseorang telah menunggu didepan rumah. Ia pesuruh Pak Sabar. Ia membawa buku-buku, sepatu, seragam, tas, dan……………… sepeda baru.
“ini untukmu dik” kata kakak itu
“untukku ? tapi kenapa Pak Sabar memberiku hadiah-hadiah ini ? apa yang telah aku lakukan ?” tanyaku heran

Kakak itu menjelaskan bahwa Pak Sabar suka padaku, karena aku tidak kenal menyerah. Juga karena aku lebih memilih bekerja daripada uang dua ratus ribu. Nenek menagis haru disampingku.
“terimalah nak,” kata nenek padaku sambil menyeka air matanya

Aku mengangguk gembira. Aku bersyukur, masih ada orang yang sangat dermawan seperti Pak Sabar. Terimakasih pak, batinku…..

 

semoga terhibur…
(pernah jadi tugas,, dikutip dari majalah bobo edisi berapa ya saya lupa😀 yang jelas udah lama banget, jamannya saya SD mungkin😀 hahaha )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s